Selasa, 19 Agustus 2008

SUMSEL JUARA SEPAK BOLA DOUBLE WINNER 2007


Soreang (ANTARA News) - Sriwijaya FC mencatat sejarah baru dengan menjadi tim pertama yang merebut gelar ganda di Indonesia setelah mengalahkan PSMS Medan 3-1 pada final Liga Djarum Indonesia (LDI) 2007 di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Minggu.Bulan lalu, kesebelasan yang dilatih Rahmad Darmawan itu merebut gelar Copa Indonesia 2007 setelah mengalahkan Persipura melalui adu penalti pada final.Sriwijaya unggul lebih dulu pada final LDI yang berlangsung tanpa penonton itu melalui gol yang dicetak pemain depan Obiora pada menit ke-15 setelah menerima umpan dari tendangan bebas gelandang Zah Rahan.PSMS, yang sejak menit ke-44 bermain dengan 10 pemain setelah bek Murphy Komunple mendapat kartu merah, berhasil menyamakan skor 1-1 melalui tendangan striker James Koko Lomel pada menit ke-69.Kemenangan Sriwijaya ditentukan melalui sundulan Keith Kayamba pada menit ke-107 memanfaatkan bola umpan tendangan pojok Alamsyah Nasution.Zah Rahan memastikan kemenangan Sriwijaya melalui tendangan jarak jauh pada menit ke-114.Murphy mendapat kartu kuning pertama pada menit ke-14 setelah ia menjegal gelandang Sriwijaya Zah Rahan.Zah kemudian mengambil tendangan bebas tersebut dan menciptakan kemelut di depan gawang PSMS. Bola liar berhasil dihantam masuk ke gawang oleh Obiora dan Sriwijaya pun unggul 1-0.Kartu merah Murphy didapat setelah ia mendapat kartu kuning kedua akibat menarik baju Obiora. Sebelumnya, pada menit ke-14, ia menerima kartu kuning pertama karena menjegal gelandang Sriwijaya Zah Rahan.Anak-anak Medan yang dilatih Freddy Mulli itu mendapat dua peluang emas pada babak pertama namun tidak bisa menjebol gawang lawan yang dikawal Ferry Rotinsulu.Bola sundulan Murphy pada menit ke-12 masih bisa dihalau bek Sriwijaya Slamet Riyadi di depan gawang dan bola tendangan keras striker Saktiawan Sinaga dari sudut sempit pada menit ke-40 masih bisa ditahan kiper Ferry.Walau kekurangan satu pemain, PSMS justru bermain lebih lepas dan bisa menekan lini belakang Sriwijaya, yang justru seperti kehilangan koordinasi pada babak kedua.Bola sundulan striker James Koko Lomel dari jarak sekitar tiga meter di depan gawang Sriwijaya pada menit ke-53 masih mengarah tepat ke kiper Sriwijaya, begitu juga tendangan keras Saktiawan Sinaga dari luar kotak penalti lima menit kemudian.James kembali mendapat peluang pada menit ke-69 dan kali ini dia tidak menyiakannya.Gelandang PSMS Andres Formento lolos dari jebakan offside di sisi kanan dan langsung melepas umpan silang mendatar ke kotak penalti. James yang berdiri tak terkawal langsung menghantam si kulit bundar dengan keras untuk menyamakan kedudukan 1-1.Skor imbang bertahan hingga babak kedua berakhir sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke perpanjangan waktu 2x15.Kedua kesebelasan mendapat beberapa peluang untuk memastikan kemenangan pada babak pertama perpanjangan waktu namun tidak bisa memanfaatkannya menjadi gol.Babak kedua perpanjangan waktu baru berjalan dua menit ketika Sriwijaya mendapat sepak pojok di sisi kiri. Alamsyah mengeksekusi tendangan itu, melayangkan bola ke kotak penalti.Bola tersebut berhasil disambut kepala Kayamba dan kiper Markus Horison harus memungut bola dari dalam gawang untuk kedua kalinya.Blunder Markus, yang maju ke gawang lawan dalam sebuah sepak pojok pada menit ke-114, membuat Sriwijaya berhasil menambah gol melalui tendangan jarak jauh Zah Rahan.(*)
COPYRIGHT © 2008 Ketentuan Penggunaan Versi Cetak Beritahu Teman Beri Komentar
var addthis_pub = 'antons';



Baca Juga
Sriwijaya Sementara Unggul 1-0 Atas PSMS
Suporter Sriwijaya dan PSMS Unjuk Rasa
Meski Tanpa Penonton, Pengamanan Final LDI Ketat
Berita Sebelumnya
Golf Indonesia Targetkan Papan Atas di San Diego
Sriwijaya Sementara Unggul 1-0 Atas PSMS
Tim Davis Indonesia Lolos ke Semifinal
Tentang Kami Ketentuan Penggunaan RSS Feed Copyright © 2008 ANTARA
var gaJsHost = (("https:" == document.location.protocol) ? "https://ssl." : "http://www.");
document.write(unescape("%3Cscript src='" + gaJsHost + "google-analytics.com/ga.js' type='text/javascript'%3E%3C/script%3E"));
var pageTracker = _gat._getTracker("UA-3529100-1");
pageTracker._initData();
pageTracker._trackPageview();
counter('1202654372','2008_02','id','http://www.antara.co.id');
/*cyear('year');*/

MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA


Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

Selasa, 12 Agustus 2008

MENJELANG BULAN SUCI RAMADHAN


Menghitung Bilangan bulan Sya’ban
Suatu keharusan bagi ummat muslim untuk menghitung bilangan pada blan Sya’ban sebagai persiapan menghadapi bulan suci ramadhan karena satu bulan bisa jadi 29 hari dan bisa 30 hari. Jika hilal (bulan sabit) sedah terlihat, maka berpuasa di bulan Ramadhan mulai dilaksanakan dan jika terhalang oleh mendung, maka diperkirakan serta disemurnakan bilangan hari bulan sya’ban menjadi 30 hari. Karena Allah sebagai Dzat yang tlah menciptakan langit dan bumi ini telah menjadikan bulan sait sebagai tanda-tanda waktu, supaya manusia mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Dan satu bulan itu tidak mungkin lebih dari 30 hari (dalam perhitungan Qamariyah)
Dari Abu Hurairah radiyallahu’anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal. Jika tertutup oleh awan (mendung) maka sepurnakan bilangan bulan sya’ban menjadi 30 hari” 1
Dari Abdullah bin ‘Umar radiyallahu’anhuma bahwa ia berkata: “Rasullah bersabda: janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal dan janganlah berbuka hinnga kalian melihat hilal. Jika tertutup oleh awan (mendung),maka perkirakanlah.” 2
Jika ada seorang saksi yang bersaksi melihat hilal, maka berpuasalah dan berbukalah!
Dan ru’yah (melihat) hilal dianggap tsabit (bisa diterima), jika disaksikan oleh dua saksi muslim yang adil. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal, berbukalah karena melihat hilal, dan bermanasiklah karena melihat hilal. Jika tertutup oleh awan (mendung), maka sempurnakanlah menjadi 30 hari. Dan jika dua orang saksi telah bersaksi, maka puasalah dan berbukalah.” 3
Meskipun hadist diatas hanya menjelaskan diterimanya kesaksian dari dua orang pada suatu kejadian (yakni ru’yah hilal), bukan berarti kesaksian dari satu orang ditolak. Sebab kesaksian satu orang dibolehkan (dan diterima) dalam ru’yah hilal. Hal ini berdasarkan riwayat yang berasal dari Ibnu ‘Umar, bahwa beliau radiyallahu’anhuma berkata:
“Orang-orang sedang berusaha melihat hilal, lalu aku mengabarkan kepada Nabi saw bahwa aku telah melihatnya. Maka beliau saw berpuasa dan memerintahakan para sahabat untuk berpuasa.” 4